Apakah yang dimaksud dengan Percobaan Pendahuluan ????
Identifikasi senyawa yang
terekstrasi dalam fraksi dilakukan dengan cara kromatografi lapis tipis (KLT),
menentukan titik leleh senyawa dan titik leleh campuran, reaksi warna
khusus,dan spektroskopi.
Yang pertama – tama
diperiksa adalah sifat fisika senyawa yaitu :
1. Bentuk
2. Bau
3. Rasa
4. Warna
Yang kedua diperiksa adalah sifat
kimia meliputi kelarutannya dalam asam dan basa. Pada analisis unsur diperiksa
kehadiran nitrogen, sulfur dan halogen, apabila reaksinya positif diperiksa
lebih lanjut sifat ikatan antar unsur. Akhirnya diperiksa reaksi terhadap gugus
fungsi. Reaksi warna yang khas dilakukan untuk menentukan golongan tertentu (
reaksi khusus ).
Sifat fisika
- Kuning – jingga : Dantron, etakridinlaktat ( berfluorosensi di bawah lampu UV ), menadion, nitrofurantoin, riboflavin ( berfluorosensi di bawah lampu UV ), tetrasiklin.
- Hijau – kuning : rutosida, pencemaran dan hasil urai dapat juga menimbulkan warna ( oksidasi )
2. Bau
- Aromatis ( harum ) : pelarutnya organik
- Menusuk : asam organik yang mudah menguap.
- Dengan pemijaran berbau karamel : gula, asam tartrat, amilum.
- Dengan pemijaran berbau merkaptan : senyawa tiourea, sulfatiazol.
- Dengan pemijaran berbau amoniak : ureida ( karbromal, bromisoval ), asam amida ( senyawa urea, salisilamida, nikotinamida ), meprobamat, berbagai barbiturat.
3.1. Laut dalam 3N NaOH
Langsung :
asam karbonat, asam sulfon ( yang tidak larut dalam air ), fenol, senyawa
nitrotiazida, sulfonamida ( kecuali sulfaguanidin ), metiltiourasil, oksazepam,
riboflavin, rutosida, teobromin.
Dingin berwarna merah : antrakinon, fenolftalein, fisostigmin.
Dingin berwarna kuning : tiamin, niklosamida, nitrazepam
Dengan pemanasan, berwarna kuning : kloramfenikol, warfarin.
Dengan pemanasan, berwarna coklat : fruktosa, rutosida, glukosa, amilum, laktosa.
Membentuk amoniak : ureida ( bromisolvan,
karbromal ), asam amida ( ureum, salisilamida, nikotinamida ), meprobamat,
streptomisin sulfat, sulfanilamid, sulfaguanidin, metiprilon.
3.2.
Larut dalam 3N H2SO4
Basa dari fraksi III, kinin dan kinidin dengan
fluoresensi biru terang.
Penetesan dengan asam sulfat pekat menimbulkan warna
yaitu :
§
Beberapa alkaloida
§
Steroida ( hidrokortison : kuning-merah )
§
Kinon (dantron-coklat )
§
Karbohidrat
§
Tetrasiklin ( ungu )
§
Fenotiazin ( merah )
§
Fenolftalein ( merah )
§
Reserpin ( kuning )
§
Asam etakrin (kuning muda )
§
Bisakodil ( ungu )
§
Dietilstilbestrol ( jingga )
§
Dipiridamol ( jingga )
§
Difenhidramin ( kuning merah – jingga )
§
Amitriptilin ( merah )
§
Klotrimazol ( kuning )
§
Perazin ( merah sangat muda )
§
Promazin ( merah muda )
a.
Percobaan Lassaigne
Tabung pijar dimasukkan 20-50 g bahan
dan sebutir logam natrium sebesar biji kacang tanah. Tabung dipanaskan
perlahan-lahan dengan api kecil dari bagian atas tabung sampai ke bagian bawah.
Setelah natrium leleh, api dibesarkan tabung dipijar beberapa menit. Kemudian
ketika masih membara, tabung dijatuhkan ke dalam piala porselin berisi 6 ml air.
Selanjutnya campuran ini disaring. Penyaringan dibilas dengan sedikit air
panas. Filtrat dibagi untuk pemeriksaa unsur nitrogen, sulfur dan
halogen.
- Pemeriksaaan nitrogen
Sepertiga fltrat di atas
ditambahkan sebutir garam besi (II) sulfat, kemudian dididihkan beberapa menit.
Sesudah dingin, dengan hati-hati besi hidroksida dalam tabung dilarutkan dengan
6N HCL ( jangan berlebih ) bila ragu-ragu, larutan disaring kertas saring akan
berwarna biru berlian. Jika bahan mengandung banyak nitrogen, lama-kelamaan
timbul warna biru pada larutan. Jika setelah didiamkan beberapa lama larutan
berwarna biru-hijau, berarti terdapat sesepora nitrogen. Jika larutan hanya
berwarna kuning, berarti larutan bebas nitrogen. Zat yang mudah melepaskan
nitrogen dan kaya sulfur tidak akan membentuk rodanida seperti di atas. Pada
percobaan di sini diperlukan logam natrium berlebih.
- Pemeriksaan nitrogen yang dimodifikasi oleh spevak
- Pemeriksaan nitrogen yang dimodifikasi oleh spevak
Sejumlah 0.5 ml filtrat Lassaigne
direaksikan dengan 0.5 ml larutan kloramin T 2 % dalam air, diasamkan dengan asam
klorida, kemudian diaduk dalam labu ditambahkan. Satu menit kemudian ke dalam
campuran ini ditambahkan larutan dimedon 3% dalam piridin 30 % dalam air sampai
berwarna merah muda. Sesudah beberapa waktu, warna menjadi biru-ungu yang tahan
kira-kira 10 menit. Kepekaan reaksi ( 0.02 mg CN/ml ) sebenarnya lebih besar
dari pada reaksi biru berlin, tetapi hanya dapat berhasil jika cara yang
disebut belakangan negatif, jadi tidak dapat diterapkan pada, misalnya turunan
pirol atau senyawa yang mengandung banyak unsur S yang memberikan hasil positif
dengan reaksi biru berlian.
Sepertiga dari filtrat
diberi beberapa tetes larutan natrium pentasiano nitrosilferat 2.5% yang dibuat
segar. Terbentuk warna ungu yang lazimnya menjadi merah darah.
- Pemeriksaan halogen
- Pemeriksaan halogen
Seperiga
filtrat diasamkan dengan HNO3 3N lalu panaskan sampai mendidih
selama 2-3 menit. Apabila terdapat lebih banyak brom atau iodium maka timbul
warna. Kapada larutan yang masih panas ditambahkan 5 tetes larutan perak nirat
5%. Jika tak terjadi endapan berarti larutan tidak mengandung klor, brom, atau
pun iodium. Kadang-kadang pada larutan yang mengandung banyak sulfur terjadi
pengendapan peraksulfat.
- Membedakan brom dari iodium
Sejumlah 0.5 ml filtrat Lassaigne yang jernih atau larutan yang mengandung halogenida direaksikan dengan 0.5 ml larutan KMNO4 6% dan 0.5 ml 3N HNO3. Dikocok 1-2 menit, ditambahkan 0.5 ml karbondisulfida, lalu dikocok lagi 2 menit. Setelah larutan memisah, tambahkan 20 mg asam oksalat. Jika lapisan bawah tidak berwarna, berarti tak ada brom atau pun iodum. Jika ada brom, lapisan berwarna merah coklat, dan jika ada iodium, berwarna ungu. Tambahkan 2 tetes amilalkohol, lalu kocok. Jika ada brom, warna yang terbentuk tadi akan hilang, dan jika ada iodium, lapisan amilalkohol berwarna ungu atau merah terang.
- Membedakan brom dari iodium
Sejumlah 0.5 ml filtrat Lassaigne yang jernih atau larutan yang mengandung halogenida direaksikan dengan 0.5 ml larutan KMNO4 6% dan 0.5 ml 3N HNO3. Dikocok 1-2 menit, ditambahkan 0.5 ml karbondisulfida, lalu dikocok lagi 2 menit. Setelah larutan memisah, tambahkan 20 mg asam oksalat. Jika lapisan bawah tidak berwarna, berarti tak ada brom atau pun iodum. Jika ada brom, lapisan berwarna merah coklat, dan jika ada iodium, berwarna ungu. Tambahkan 2 tetes amilalkohol, lalu kocok. Jika ada brom, warna yang terbentuk tadi akan hilang, dan jika ada iodium, lapisan amilalkohol berwarna ungu atau merah terang.
b. Pemeriksaan
sulfur lansung dari bahan
Sejumlah
50 mg bahan direaksikan dengan 1.0 ml larutan H2O2 30%
dan 2 tetes larutan besi (III) klorida 10%. Terjadi reaksi yang kuat, bila
perlu didinginkan. Kemudian larutan diencerkan dengan air dan dituangi 1.0 ml
3N HCL dan 1.0 ml BaCL2 5%. Terbentuk endapan putih BaSO4.
- Ikatan ganda sulfur dengan pereaksi Iod-Azida
Ke dalam 2 ml larutan 0.003 N iodium ( 3 ml
0.1 N I2 + 100 ml air ) ditambahkan beberapa tetes larutan kanji dan
100 mg natrium azida padat, larutan menjadi biru. Kemudian ke dalam larutan ini
ditambahkan 50 mg bahan akan diperiksa, dengan pengocokan warna hilang atau
larutan menjadi jernih dan tampak gelembung-gelembung nitrogen yang berasal
dari Penisilin, Metionin, Tiamin, Sulfatiazol, Propiltiourasil.
Reaksi diganggu oleh zat pereduksi, beberpa turunan fenotiazin memberikan reaksi negatif.
Reaksi diganggu oleh zat pereduksi, beberpa turunan fenotiazin memberikan reaksi negatif.
c. Pemeriksaan
halogen langsung dari bahan menurut Beilstein
Sebagian bahan diletakkan pada keping tembaga ( misalnya uang tembaga ) lalu dibakar
dengan api Bunsen di bagian nyala yang tak berwarna. Jika bahan mengandung
halogen, nyala berwarna hijau karena terbentuk tembaga-halogenida yang menguap.
Cara
Lassaigne lebih dapat dipercaya daripada cara Beilstein ini karena asam organik
seperti ureum, turunan pirazolon, dan pioridin juga menimbulkan nyala hijau.
Daftar pustaka
Harry Auterhoff dan Karl-Artur-Kovar, Identifikasi Obat, N.C.Sugiarso, penerbit ITB, Bandung, Indonesia, 2002.
Daftar pustaka
Harry Auterhoff dan Karl-Artur-Kovar, Identifikasi Obat, N.C.Sugiarso, penerbit ITB, Bandung, Indonesia, 2002.
selamat membaca semoga bermanfaat ( * _ * )....God bless you....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar